Senin, 18 Juni 2012

Konsep Hidup Bahagia Dalam Islam


Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah. yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.
Lantas apakah yang disebut"bahagia' (sa'adah/happiness)?
Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.
Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.
Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.'
Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?
Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:
"Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.
Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.
Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah.
Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.
Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.
Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam."
Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.
Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.
Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.
Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.
Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.
Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih.
"Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.
"Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..."
"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..."
Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

Sabtu, 16 Juni 2012

Bagaimana Prinsip 90/10 Mempengaruhi Hidup Anda

Prinsip 90/10
Prinsip 90/10 adalah sebuah prinsip yang dapat mengubah hidup Anda, atau setidaknya, mengubah cara Anda bereaksi dalam suatu situasi yang buruk.
Berikut adalah bunyi dari prinsip 90/10 ini:
10% hidup Anda ditentukan oleh apa yang terjadi pada hidup Anda. 90% sisanya ditentukan oleh bagaimana reaksimu terhadap kejadian tersebut…
Apa artinya? Artinya, kita tidak mempunyai kontrol terhadap yang 10% tersebut, yaitu terhadap apa yang terjadi pada diri kita.
Tapi, berbeda dengan 90% sisanya. Andalah yang menentukan 90% tersebut. Bagaimana? Dengan reaksi Anda.
Anda tidak dapat mengontrol musibah yang mungkin terjadi dalam hidup Anda. Namun, Anda dapat mengontrol reaksi Anda terhadap musibah tersebut. Seringkali, justru reaksi Andalah yang menentukan apakah akan ada musibah-musibah berikutnya atau tidak.
Mari kita lihat sebuah contoh.
Andaikan Anda sedang sarapan dengan keluarga Anda. Tiba-tiba, putri Anda menumpahkan kopi ke kemeja kerja Anda.
Anda tidak mempunyai kontrol terhadap musibah yang baru saja terjadi ini. Namun, apa yang terjadi berikutnya akan ditentukan dari bagaimana Anda bereaksi.
Lalu Anda mulai mengomel. Anda memarahi putri Anda dengan keras karena menyenggol cangkir kopi itu. Putri Anda lalu mulai menangis.
Setelah memarahi putri Anda, Anda mulai beralih ke istri Anda, dan menyalahkan dia karena terlalu pinggir dalam menaruh cangkir kopi itu di atas meja. Perang mulut singkat pun terjadi.
Dengan terus mengomel, Anda pergi ke kamar dan mengganti kemeja Anda. Ketika Anda kembali, Anda mendapati putri Anda terlalu sibuk menangis sampai-sampai dia tidak menyelesaikan sarapannya dan terlambat menyiapkan diri untuk ke sekolah. Akhirnya, dia ketinggalan bis yang biasa mengantarnya ke sekolah.
Istri Anda harus segera pergi kerja. Akhirnya, terpaksa Anda yang mengantarkan putri Anda ke sekolah. Karena Anda sudah terlambat, Anda mengebut mobil Anda dan menerobos lampu merah.
Setelah 10 menit berurusan dengan polisi dan mendapatkan surat tilang, Anda sampai di sekolah. Putri Anda langsung berlari pergi tanpa mengucapkan apa pun.
Ketika Anda telah sampai di kantor setelah terlambat 1 jam, Anda baru sadar Anda meninggalkan tas kerja Anda.
Hari Anda berawal dengan buruk, dan semakin lama, menjadi semakin buruk dan terus semakin buruk. Sampai akhirnya waktunya Anda pulang ke rumah.
Ketika Anda sampai di rumah, Anda merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Suasana menjadi lebih dingin, dan hubungan Anda dengan putri dan istri Anda menjadi kurang baik.
Kenapa ini semua terjadi? Itu akibat reaksi Anda pagi tadi.
Kenapa hari Anda menjadi buruk?
A) Apakah secangkir kopi yang menyebabkannya?
B) Apakah putri Anda yang menyebabkannya?
C) Apakah polisi yang menilang Anda yang menyebabkannya?
D) Apakah Anda yang menyebabkannya?
Jadwabannya adalah “D”
Anda tidak mempunyai kontrol terhadap apa yang terjadi terhadap kopi yang tumpah di kemeja Anda. Putri Anda yang menyebabkan hal itu. Namun, reaksi Anda 5 detik berikutnyalah yang menyebabkan hari buruk Anda.
Seandainya saja saat itu Anda melakukan reaksi yang berbeda.
Kopi tumpah di kemeja Anda. Putri Anda baru saja akan menangis. Dengan lembut dan sebuah senyuman Anda berkata, “Tenang Nak, tidak apa-apa… Ini hal yang biasa terjadi. Kamu hanya perlu lebih berhati-hati ya lain kali…”
Lalu Anda mengambil handuk, pergi ke kamar Anda, dan mengganti kemeja Anda. Anda mengambil tas kerja Anda, dan kembali ke ruang makan. Ketika Anda kembali, Anda melihat dari jendela, putri Anda sedang naik ke dalam bis. Dia melambaikan tangannya kepada Anda. Anda sampai di kantor 5 menit lebih awal, dan dengan gembira Anda menyapa staf-staf Anda.
Lihat perbedaannya?
Dua skenario berbeda.
Keduanya diawali dengan kejadian yang sama.
Keduanya mempunyai akhir yang berbeda.
Kenapa? Karena reaksi Anda. Anda benar-benar tidak mempunyai kontrol terhadap 10% dari apa yang terjadi pada hidup Anda, namun 90% sisanya ditentukan dari bagaimana Anda bereaksi.
Sekarang, Anda sudah tahu prinsip 90/10. Aplikasikan prinsip ini dan Anda akan terkejut dengan hasilnya. Silakan buktikan sendiri. :D

Prinsip Hidup


Kita semua pasti punya prinsip Dalam hidup Kita masing-masing. Untuk saya pribadi, yang saya sebut prinsip adalah tentang bagaimana kita menyikapi suatu masalah. Misalnya, ketika harus menentukan mana yang harus jadi prioritas, membedakan yang baik dan buruk, dan lain-lain. Tapi prinsip ini memperlukan yang namanya treatment atau perawatan yang terus-menerus.
Prinsip ini terbentuk bukan secara mendadak, melainkan melalui suatu proses. Dan kadang-kadang bisa saja prinsip yang kita pegang ini berubah oleh beberapa hal atau pemikiran baru. Kita bisa saja lupa apa prinsip yang kita pegang untuk menjalani hidup ini. Kelupaan inilah yang kemudian menimbulkan berbagai macam masalah, musibah, bencana, dll. Mempunyai prinsip dalam hidup itu penting karena hal itulah yang membedakan kepribadian kita dengan yang lainnya.
Prinsip saya, hidup itu harus bahagia. Kebahagiaan bukan diukur dari kesenangan dan kemewahan. Tapi bahagia itu ketika merasa tidak ada yang kurang dengan apa yang kita miliki dan bisa merasa beruntung setiap waktu. Saya bahagia saat melihat orang lain tertawa. Bahkan saat sakitpun juga bahagia, setidaknya saya masih dapat merasakan sakit. Dengan sakit saya bisa tahu betapa berharganya sehat. Semua yang terjadi dalam hidup adalah untuk mengajarkan kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Puncak kebahagiaan manusia adalah saat di mana seseorang dapat melewati masa-masa kesulitannya. Dan, dapat memberi warna kepada orang lain. Di situlah seseorang akan menemukan kehidupan yang penuh makna. Begitu banyak ujian dan cobaan ketika seseorang hendak mengejar sebuah kesuksesan. Oleh sebab itu, penting kiranya bagi seseorang untuk berpegang teguh pada prinsip hidup yang diyakininya. Supaya, setiap gelombang kehidupan yang menghampiri dapat dipatahkan. Prinsip hidup merupakan modal awal bagi seseorang untuk menuju kesuksesan. Dan, prinsip hidup juga merupakan sebuah cerminan keseriusan bagi seseorang dalam menggapai tujuan yang ingin dicapainya.
Setiap manusia terlahir di dunia sudah dibekali dengan berbagai potensi. Manusia tinggal mengembangkannya saja. Sesungguhnya, banyak orang gagal bukan karena ia tidak mampu mengerjakan sesuatu tetapi karena memang ia tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas dalam hidupnya. Seseorang mudah terombang-terombang-ambing dalam jiwa ketidaksadaran.

Berikut adalah beberapa prinsip hidup menurut Richard Branson:

1. You can’t be a good leader unless you generally like people. That is how you bring out the best in them.

2. I enjoy every single minute of my life
3. I made and learnt from lots of mistakes
4. There is no one to follow, there is nothing to copy
5. I never had any intention of being an entrepreneur
6. If you can indulge in your passion, life will be far more interesting than if you’re just working
7. But the majority of things that one could get stressed about, they’re not worth getting stressed about
Ketujuh prinsip ini merupakan contoh prinsip hidup yang baik. Dan baiklah pula juga menjadi prinsip dalam hidup kita. Jadi, belajar pegang prinsip yuk :)

Rabu, 13 Juni 2012

Makna Ikhlas



Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an, (artinya):
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah: 5)
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.”(Al-Mulk: 2)
Al-Fudhail berkata, “Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar.”
Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah.” Kemudian ia membaca ayat, (artinya): “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110)
Allah juga berfirman, (artinya):
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (An-Nisa’: 125)
Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.
Allah juga berfirman, (artinya):
“Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)
Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, “Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya.”
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya):
“Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama’ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka.” (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya’, berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, “Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.
Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari’ Al-Qur’an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, “Fulan adalah qari’, fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah”, yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.
Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; “Allah berfirman, ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya’.” (HR. Muslim)
Di dalam hadits lain disebutkan; “Allah berfirman pada hari kiamat, ‘Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami’.”
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.” (HR. Muslim)
Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya’ dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.
Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya.”
Al-Junaid berkata, “Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya.”
Yusuf bin Al-Husain berkata. “Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya’ dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain.”
Pengarang Manazilus-Sa’irin berkata, “Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran.” Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun.

Renungan Hidup


Renungan berikut adalah nasehat Hasan Basri yang mengajak kita untuk merenungi 5 hal yang paling pantas untuk selalu kita cemaskan. antara lain:
1. Ibadah kita
Adakah ibadah kita selama ini cukup pantas untuk diterima Allah SWT. Ataukah jangan-jangan shalat yang begitu banyak kita kerjakan itu hanyalah gerakan tanpa makna. Dan ataukah puasa dan amal kita hanyalah penghias hasrat semata. Bukankah misi hidup manusia didunia adalah beribadah pada ALLAH? lalu apa gunanya kita jika semua ibadah kita tidak diterima oleh ALLAH. Selayaknya kita selalu meminta pada ALLAH untuk memperbaiki ibadah kita dan terus menjaga niat kita hanya untukNya.
2. Dosa-dosa kita
Sudah berapa banyak dosa yang kita lakukan selama kita hidup?  Segala yang besar berasal dari yang kecil. kadang kita tertipu oleh dosa-dosa kecil. merasa dosa kecil tidaklah terlalu besar dampaknya. padahal semua yang besar berasal dari yang kecil. Bagaimana jika ibadah kita yang pas-pasan senantiasa dikikis oleh dosa yang membesar?
Semoga ALLAH senantiasa menjaga kita dari dosa kecil dan besar.
3. Surga dan Neraka
Surga dan neraka adalah konsekuensi dan keniscayaans hidup manusia setelah hari perhitungan. Hanya ada dua tempat itulah tempat kita kembali nanti.
Sudahkah kita tahu betapa dasyatnya siksa neraka? dan sudahkah kita yakin akan kenikmatan surga?
Sudahkah kita pantas memasuki surga? dan sudahkah kita yakin bisa terhindar dari siksa neraka?
Semoga tempat kembali kita adalah tempat terbaik disisi ALLAH SWT
4. Masa lalu dan masa depan
Masa lalu adalah pelajaran berharga yang harus kita ingat baik-baik. sedangkan masa depan adalah sesuatu yang tidak pernah kita ketahui. Untuk itu, setiap hari kita diingatkan oleh ALLAH melalui setiap shalat kita untuk senantiasa diberikan petunjuk menapaki jalan yang lurus.
5. Keridloan Allah atas semua tindakan kita
Dari semua hal yang kita lakukan dahulu, sekarang maupun yang akan datang, adakah kita yakin bahwa semua itu mendatangkan ridlo ALLAH? ataukah hanya hal sekedarnya yang tidak ada nilainya, atau bahkan membawa murka ALLAH? kita perlu senantiasa memperhatikan apa yang sedang dan kita lakukan. bisa jadi hal kecil yang kita lakukan dapat membawa nilai besar disisi ALLAH. baik itu nilai kebaikan, maupun nilai keburukan.
Sedikit renungan semoga bermanfaat.

Selasa, 12 Juni 2012

Hikmah dibalik Kisah


Seorang laki-laki saudagar kaya turun dari mobil mewahnya, kemudian disambut akrab oleh seseorang yang sederhana yaitu pemilik rumah yang dikunjunginya. "Oh, jadi beginikah rumah Pak Cik rupanye. Awak tak sangke, sangatlah sederhana sekali" mereka berdua memang pengusaha yang sukses.

Mr. Wang, adalah seorang pengusaha sukses asal malaysia, nyaris tidak percaya apa yang dia lihat pada sahabatnya itu, ia sangat tidak percaya apa yang ia lihat karena sahabat nya itu adalah pengusaha sukses dengan asetnya triliyunan rupiah tetapi rumah nya begitu sederhana sekali jauh dari kesan rumah mewah yang terbayang oleh Mr. Wang.

Kemudian ditengah keheranannya Mr. Wang bertanya. Anda kemanakah uang anda? sehingga untuk membeli rumah yang bagus saja anda tidak bisa membelinya, padahal anda orang kaya. kemudian dijawablah oleh saudagar kaya namun hidup sederhana ini, Saya juga membangun rumah yang sangat bagus dan senantiasa selalu ingin membaguskanya sepanjang hayat saya.

Ditengah kebingungan nya Mr. Wang semakin penasaran, Lantas apa yang Pak cik maksud ni? lantas dijawab olehnya sahabat saya memang sedang membangun rumah tetapi bukan didunia fana ini yang insya Allah bagus, yaitu untuk di surga nanti. Uang yang saya dapat adalah karunia Allah oleh sebab itu bukanlah semua nya hak saya, saya salurkan untuk pembangunan masjid-masjid yang membutuhkan dana pembangunan, kemudian uang nya saya salurkan kepada fakir miskin, Anak-anak yatim dan kepada orang yang sangat membutuhkan. Sehingga kekayaan saya tidak dapat anda lihat didunia ini dan saya merasa puas dengan apa yang saya miliki ini yaitu kehidupan yang sederhana, lihat lah rumah saya jangankan dibilang mewah, kalau ada yang bilang bagus ya Alhamdulillah.

Sebagai hamba Allah saya hanya memohon dan berharap kelak Insya Allah ada rumah yang bagus untuk saya. Aamiin. 

Setelah panjang lebar bercerita mengenai makna hidup dari saudagar namun sederhana ini. Mr. Wang terharu mendengarnya dan sadar akan apa yang ia selama ini lakukan, kali ini ia benar-benar mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari sahabatnya itu. Selama ini ia selalu mengumpulkan harta untuk memperkaya dirinya sendiri didunia yang fana ini tetapi bisa jadi ia akan miskin bahkan sangatlah miskin kelak di akhirat nanti karena tak ada harta yang diamalkanya.

catatan :

1. Harta bukanlah segalanya dalam hidup ini, tetapi kita perlu harta untuk penunjang
kita dalam melaksanakan amal kebajikan. 

Dosa Yang Lebih Hebat dari Zina


Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa IA berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping Dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.

Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala IA berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itu pun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. Cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang IA menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil memalingkan Mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit Dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan IA tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina Dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah Ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” “Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja Dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina. Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja Dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib Dan tidak perlu atas dirinya. Berarti IA seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur Dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat Dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya Dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH > Abdurrahman Arroisy)

Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi Dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian IA mengqadanya, maka IA akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 Hari, sedangkan satu Hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa Dan wanita pezina Dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi Kita Dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.